Senin, 30 Januari 2017

Mengenal Cascading Style Sheet

Mengenal Cascading Style Sheet (CSS)

Cascading Style Sheet (CSS) merupakan salah satu bahasa pemrograman web untuk mengendalikan beberapa komponen dalam sebuah web sehingga akan lebih terstruktur dan seragam.
Sama halnya styles dalam aplikasi pengolahan kata seperti Microsoft Word yang dapat mengatur beberapa style, misalnya heading, subbab, bodytext, footer, images, dan style lainnya untuk dapat digunakan bersama-sama dalam beberapa berkas (file). Pada umumnya CSS dipakai untuk memformat tampilan halaman web yang dibuat dengan bahasa HTML dan XHTML.
CSS dapat mengendalikan ukuran gambar, warna bagian tubuh pada teks, warna tabel, ukuran border, warna border, warna hyperlink, warna mouse over, spasi antar paragraf, spasi antar teks, margin kiri, kanan, atas, bawah, dan parameter lainnya.[1] CSS adalah bahasa style sheet yang digunakan untuk mengatur tampilan dokumen. Dengan adanya CSS memungkinkan kita untuk menampilkan halaman yang sama dengan format yang berbeda.
Sejarah CSS
Nama CSS didapat dari fakta bahwa setiap deklarasi style yang berbeda dapat diletakkan secara berurutan, yang kemudian membentuk hubungan ayah-anak (parent-child) pada setiap style. CSS sendiri merupakan sebuah teknologi internet yang direkomendasikan oleh World Wide Web Consortium atau W3C pada tahun 1996. Setelah CSS distandarisasikan, Internet Explorer dan Netscape melepas browser terbaru mereka yang telah sesuai atau paling tidak hampir mendekati dengan standar CSS.
Penulisan
Saat masuk pada bagian CSS, sering dijumpai kode sebagai berikut:
H1 {
COLOR: #0789DE;
}
Bagian pertama sebelum tanda ‘{}’ dinamakan selector, sedangkan yang diapit oleh ‘{}’ disebut declaration yang terdiri dari dua unsur, yaitu property dan value. Selector dalam pernyataan di atas adalah h1, sedangkan color adalah property, dan #0789de adalah value.
Selain itu ada tiga metode penulisan CSS atribut, yaitu :
Inline Style Sheet
CSS didefinisikan langsung pada tag HTML yang bersangkutan. Cara penulisannya cukup dengan menambahkan atribut style=”…” dalam tag HTML tersebut. Style hanya akan berlaku pada tag yang bersangkutan, dan tidak akan mempengaruhi tag HTML yang lain.

Contoh penulisan CSS dengan metode Inline Style Sheet :
<html>
<head>
<title>Contoh Bentuk Inline</title>
</head>
<body bgcolor=”#FFFFFF”>
<p id=”cth1?>
Ini adalah contoh tag P tanpadiformat menggunakan CSS </p>

<p id=”cth2? style=”font-size:20pt”>
Tag P ini diformat dengan besar font 20 point </p>

<p id=”cth3? style=”font-size:14pt; color:red”>
Tag P ini diformat dengan besar font 14 point, dan menggunakan warna merah </p>
</body>
</html>
Embedded Style Sheet
CSS didefinisikan terlebih dahulu dalam tag <style> … </style> di atas tag <body>. Pada pendefinisian ini disebutkan atribut-atribut CSS yang akan digunakan untuk tag-tag HTML, yang selanjutnya dapat digunakan oleh tag HTML yang bersangkutan.
Contoh penggunaan CSS dengan metode Embedded Style Sheet :
<html>
<head>
<title>Contoh Bentuk Embedded/title>
</head>
<style>
body {background:#0000FF; color:#FFFF00; margin-left:0.5in}
h1 {font-size:18pt; color:#FF0000}
p {font-size:12pt; font-family:arial; text-indent:0.5in}
</style>
<body>
<h1 id=”cth1?>Judul ini berukuran 18 dengan warna merah!</h1>
<p id=”cth2?>Tag p ini di format dengan besar font 12 point dengan tipe font Arial dan mempunyai identasi 0.5 inch </p>
<p id=”cth3?>Yang perlu diperhatikan juga bahwa body disini telah diformat dengan margin kiri 0.5 inch dan warna background biru</p>
</body>
</html>
Linked Style Sheet
Metode ini hampir sama dengan metode Embedded Style Sheet, hanya saja pendefinisian tag <style> … </style> dibuat pada berkas terpisah dari berkas HTML yang membutuhkan CSS. Kemudian berkas lain tersebut disimpan dalam format .css.
Pada berkas HTML yang akan menggunakan berkas CSS, harus dibuat tag <link> yang dituliskan di antara tag <head> … </head>.
Contoh (simpan dengan nama contoh.css) :
<style>
body {background:#0000FF; color:#FFFF00; margin-left:0.5in}
h1 {font-size:18pt; color:#FF0000}
p {font-size:12pt; font-family:arial; text-indent:0.5in}
</style>
Sifat CSS
Ada dua sifat CSS yaitu internal dan eksternal. Jika internal yang dipilih, maka skrip itu dimasukkan secara langsung ke halaman website yang akan didesain. Kalau halaman web yang lain akan didesain dengan model yang sama, maka skrip CSS itu harus dimasukkan lagi ke dalam halaman web yang lain itu.
Sifat yang kedua adalah eksternal di mana skrip CSS dipisahkan dan diletakkan dalam berkas khusus. Nanti, cukup gunakan semacam tautan menuju berkas CSS itu jika halaman web yang didesain akan dibuat seperti model yang ada di skrip tersebut.
Fakta Menggunakan CSS
Fakta Menggunakan CSS diantaranya :
  • Telah didukung oleh kebanyakan browser versi terbaru, tetapi tidak didukung oleh browser-browser lama.
  • Lebih fleksibel dalam penempatan posisi layout. Dalam layouting CSS, kita mengenal Z-Index untuk menempatkan objek dalam posisi yang sama.
  • Menjaga HTML dalam penggunaan tag yang minimal, hal ini berpengaruh terhadap ukuran berkas dan kecepatan pengunduhan.
  • Dapat menampilkan konten utama terlebih dahulu, sementara gambar dapat ditampilkan sesudahnya.
  • Penerjemahan CSS setiap browser berbeda, tata letak akan berubah jika dilihat di berbagai browser
  • CSS adalah layouting "Masa Depan" dengan penggabungan bersama XHTML.

Kamis, 19 Januari 2017

Jenis jenis protokol

Mengenal Jenis – Jenis Protokol Jaringan - Protokol adalah sebuah standar dan aturan yang fungsinya untuk mengatur atau mengijinkan terjadinya suatu komunikasi, hubungan, dan perpindahan data antara dua atau lebih titik komputer. Protokol juga dapat diterapkan pada perangkat keras, perangkat lunak ataupun kombinasi dari keduanya. Pada tingkatan yang terendah, protokol mendefinisikan koneksi perangkat keras. Apa sajakah jenis – jenis protokol Jaringan ? simak penjelasan berikut.



TCP/IP (Transmission Control Protokol/Internet Protokol)
TCP/IP Adalah suatu standar komunikasi data yang dipakai oleh komunitas internet dalam proses tukar-menukar data dari satu komputer ke komputer lain pada jaringan Internet. Protokol ini tidak bisa berdiri sendiri, sebab protokol ini berupa kumpulan protokol atau “protokol suite”. Protokol ini juga adalah protokol yang paling banyak digunakan pada saat ini. Data tersebut diimplementasikan dalam bentuk perangkat lunak “software” dalam sistem operasi. Istilahnya adalah TCP/IP stack. Pada TCP/IP juga terdapat beberapa protokol sub yang mampu menangani masalah komunikasi antar komputer. TCP/IP mengimplemenasikan arsitektur yang berlapis terdiri atas empat lapis, diantaranya adalah :
Protokol lapisan aplikasi
Protokol lapisan antar-host
Protokol lapisan internetwork
Protokol lapisan antarmuka jaringan


Domain Name System (DNS)
Domain Name System adalah suatu distribute database system yang digunakan untuk melakukan pencarian nama komputer “name resolution” dalam jaringan yang mengunakan TCP/IP (Transmission Control Protokol/Internet Protokol). DNS seringnya digunakan pada aplikasi yang terhubung ke Internet seperti web browser atau e-mail, dimana DNS dapat membantu untuk memetakan host name sebuah komputer ke IP address. Selain digunakan di Internet, DNS juga bisa diaplikasikan ke private network atau intranet dimana DNS memiliki keunggulan seperti:
Mudah, DNS sangat mudah sebab user tak direpotkan untuk mengingat IP address sebuah komputer dan cukup host name (nama Komputer).
Konsisten, IP address pada sebuah komputer dapat berubah-ubah tapi host name tidak dapat berubah.
Simple, user atau pengguna hanya menggunakan satu nama domain untuk mencari baik di Internet atau di Intranet.


UDP ( User Datagram Protokol)
UDP salah satu protokol lapisan transpor TCP/IP yang mendukung suatu komunikasi yang tidak andal “unreliable”, tanpa adanya koneksi “connectionless” antara host-host di dalam jaringan yang memakai TCP/IP.
Connectionless (tanpa koneksi): Pesan-pesan UDP akan dikirim tanpa harus melakukan proses negosiasi koneksi antara dua host yang akan berukar informasi.
Unreliable (tidak andal): Pesan-pesan UDP akan dikirim sebagai
suatu
datagram tanpa adanya nomor urut atau pesan acknowledgment. Protokol lapisan aplikasi yang berjalan di atas UDP mesti melakukan pemulihan terhadap pesan-pesan yang
telah
hilang
pada waktu
selama transmisi.
UDP
juga
menyediakan mekanisme supaya
dapat
mengirim pesan-pesan ke sebuah protokol lapisan aplikasi atau proses tertentu di dalam sebuah host dalam jaringan yang memakai TCP/IP.
Di dalam
Header UDP
, berisi
field Source Process Identification dan Destination Process Identification.
UDP
dapat
menyediakan penghitungan checksum
yang
berukuran 16-bit pada keseluruhan pesan UDP.


Point-to-Point Protokol
PPP merupakan suatu protokol enkapsulasi paket jaringan yang banyak dipakai pada wide area network (WAN). Protokol ini adalah standar industri yang bisa berjalan di lapisan data-link dan dikembangkan pada awal tahun 1990-an sebagai respons terhadap masalah-masalah yang terjadi dalam protokol Serial Line Internet Protokol (SLIP), yang hanya bisa mendukung pengalamatan IP statis terhadap para kliennya. Kalau dibandingkan dengan pendahulunya (SLIP), PPP jauh lebih baik karena protokol ini bekerja lebih cepat, menawarkan koreksi kesalahan, dan negosiasi sesi yang dinamis tanpa intervensi dari pengguna. Protokol ini mendukung banyak protokol-protokol jaringan yang bersifat simu